PROYEK GAMBALANG
"
Koran... koran..."
"Tersangka
kasus korupsi proyek gambalang masih terus dicari"
"Koran
anget koran anget"
Suara
loper koran itu makin memecah-mecah siang. Kecil, melengking dan tidak nyaman
untuk didengarkan. lagipula, si loper koran ceking itu juga cuek saja dengan
gumam gerutu orang-orang yang menilntas jalanan pinggir pasar ini.
“Kenyih,
lha wong koruptornya saja belum
ketemu kok sampeyan sudah kowar-kowar suruh beli koran”
Si loper koran ceking itu masih
terus berdiri di pinggir jalan, ia diam saja sambil menyeka keringat akibat
terik mentari serta kena sepercik hujat. “Ya sabar pak, namanya juga proyek gambalang,
itu kan mega proyek, pastinya pelakunya licin-licin semua”.
Matahari hampir menemu senja, masih
tersisia beberapa bundel koran berheadline proyek gambalang tersisa. Si loper
koran itu menepi menuju kawasan pasa yang mulai sepi dari ramainya dengung
pedagang sayur mayur pagi hari. Tenda warung kopi baru setahun buka ini menjadi
sasaran ampirannya. Di bawah tenda
seukuran 3x3 meter persegi bertuliskan warkop PON ini si loper koran
menyandarkan lelahnya seharian menjaja berita. Warung ini, walaupun masih baru
tapi semua orang di kawasan pasar sudah tahu makna dari nama warkop PON yang
memang terkesan ngasal. Meskipun pemilik
warkop ini bernama pak ponidi, namun bukan berarti nama pon diambil dari suku
pertama namanya. PON artinya ‘pokok ora
nyolong’ atau dalam bahasa Indonesia berarti ‘asal (uangnya) tidak (hasil)
mencuri’. Ya, begitulah filosofi kehidupan lelaki paruh baya bertubuh pendek,
gemuk nan putih ini. Ia sangat getol untuk sekedar mengikuti update kabar pelaksanaan korupsi
pengkorupsian di Indonesia.
“Pak pon, kopi pait satu”, ujar si
loper koran sambil mulai duduk di angkringan warkop pak pon.
“Gimana kabar proyek gambalang hari
ini kor? Apakah sudah ada belut yang tertangkap?”
Tiap sore ketika si loper koran
mampir ke warung kopi PON, pan pok selalu menanyakan kabar pelaksanaan korupsi
pengkorupsian di Indonesia, terutama yang baru-baru ini, yakni proyek gambalang
yang katanya nyeret-nyeret deretan
‘nama-nama bersih’. Si loper koran yang akrab disapa kor atau kependekan dari
koran ini hanya menghembuskan napas panjang. Ketika pak pon bertanay seperti
itu padanya, ia selalu merasa seakan-akan ialah yang harus bertanggungjawab
untuk menyadarkan para pemilik warung kopi kecil-kecilan serta orang yang tidak
pernah menyentuh lantai Senayan tentang dunia kegelapan satu ini.
“Tunggulah saja pak pon, nanti kalau
aparat dan KPK sudah menangkap belut itu, kita yang hanya bisa hidup di sini
juga pasti akan tahu”.
“Iya, tapi aku tidak sabar ingin
tahu siapa dlaang dibalik proyek gambalang ini”, seru pak pon sambil
mengantarkan secangkir kopi ke tempat si loper koran mangkring.
“Lha memangnya kalau sampeyan sudah
tahu siapa dalang di balik kasus ini, mau sampeyan apakan belut itu pak pon?
Masakan mau sampeyan goreng hingga jadi belut krispi yang gemuk-gemuk?”
Si loper koran lalu menyeruput kopi
panasnya sambil mengusap peluh yang mengucur akibat lelah menjaja koran dan lelahnya
menanggapi ketika pak pon sudah mengeluarkan jurus bicaranya. Ketika pak pon
bicara berapi-api seperti ini, ia jadi ingat foto seseorang di kaos oblong yang
ia kenakan hari ini. Seorang wakil daerah yang sewaktu akan nyalon, ia berjanji
dengan berapi-api untuk merelokasi pasar ini, ya tidak lain adalah pasar yang
masih semrawut ini. Namun nyatanya, tidak semudah itu mewujudkan janji yang
berapi-api.
Matahari tak ubahnya seperti gadis
yang malu-malu untuk dipinang. Masih terasa sisa-sisa malam di langit dunia.
Namun, para pedagang sayur mayur sudah kemrecek
suaranya sibuk menata dagangan pengais rejeki hari. Sementara itu, si loper
koran baru saja keluar dari rumah agen koran. Di tangannya, ada sebuah berita
negeri yang beraneka macam rupa jenisnya. Ada keindahan negeri, ada kedamaian,
cinta, kemakmuran, dan beberapa paragraf berita mengenai pencuri yang berdasi
rapi.
“Kooo-rannnnnnnn......”
“Seekor belut hambalang tertangkap
kemarin malam!”
“Eh yang benar saja, apakah koruptor
gambalang tertangkap satu? Wah ini pasti akan jadi berita baik buat pak pon,
semoga saja, secangkir kopi panas dan sepiring gulai kambing akan jadi
imbalanku sore nanti,” gumam si loper koran sambil membaca-baca koran untuk
memastikan bahwa headline itu benar adanya.
Mobil motor berlalu lalang dengan
kecepatan tinggi di depan tubuh ceking si loper koran. Maklumlah, ini masih
jam-jam sibuk perkotaan. Si loper koran itu lalu menyisihkan satu bundel koran
untuk pak pon nanti sore. Namun, sebelum osre manmpakkan raut senjanya dan
siang menggulung teriknya, terlihat seorang lelaki dari seberang jalan
mendekati si loper koran. Lelaki pendek, gemuk nan putih itu mirip pak pon, ya,
tidak salah lagi, dari cara berjalannya yang tidak bisa cepat nyatalah bahwa ia
adalah pak pon. “Kor...!” Sisakan satu untukku!” yang diajak bicara hanya
mengacungkan jempol tanda paham.
“Kor, aku dengar dari tukang becak,
hari ini sudah tertangkap seekor belut gambalang ya?”
“Sebentar pak pon, rumahmu kan
lumayan jauh dari sini, lagipula ini belumlah jadwal operasional warkop, lantas
mengapa kau ada di sini?”
“Ah, itu bukan jadi masalah, aku kan
punya banyak teman di pusat kota. Sudah, mana koran itu,” ujar pak pon sambil
meminta koran pada si loper koran.
Saat
membaca koran itu, muka pak pon berubah. Wajahnya yang penuh dengan lemak dan
pigmen putih makin pucat. Mulutnya komat-kamit membacanya. Matanya sesekali
melotot tanda terkejut.
“Ah, ini untukmu kor, maaf aku tak
bisa lama-lama menemanimu di sini. Terimakasih banyak ya”
Setelah
itu, ia lari dengan kecepatan yang tidak bisa tinggi. Ia lari menuju mobil
pajero sport yang diparkir di seberang jalan tepat ia tiba-tiba muncul tadi.
Anehnya, pak pon yang mengaku seorang yang itdak mampu mengapa memiliki mobil
ssemewah itu.
Beberapa hari semenjak peristiwa
tertangkapnya dalang kasus proyek gambalang, warkop pak pon tidak pernah buka
lagi. Pak pon tiba-tiba saj alenyap dari kehdupan orang-orang pasar dan si
penyebar berita negeri. Tidak ada satupun yang tahu penyebabnya.
Setalh keluar dari rumah agen koran,
si loper koran itu agak lemas rupanya. Ia terduduk sejenak di emperan rumah
agen koran. Lalu ia kembali menjajakan korannya, ya, memang itu yang bisa ia
lakukan untuk menyambung hidupnya.
“Koran...koran... drama ibukota.
Salah seorang tersangka kasus korupsi proyek gambalang tertangkap lagi kemarin
malam setelah setahun menjadi buron dengan menyamar menjadi tukang kopi di
sebuah kawasan pasar tradisional”.
Dalam
benaknya, si loper koran dengan suara cempreng itu menyimpan keterkejutan luar
biasa. Ia pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dimanakah kiranya
orang-orang berkuasa itu belajar hingga mereka mahir memainkan drama di hadapan
rakyat jelata?

Komentar
Posting Komentar